Jumat, 05 Agustus 2016

Posted by semangat 08.18 No comments

Oleh M. Anwar Djaelani
Peminat Masalah Sosial-Keagamaan
Penulis Buku “50 Pendakwah Pengubah Sejarah”

ADA dua hal menarik terkait dengan “bahasa tubuh” dan sikap Muhadjir Effendy yang baru dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pertama, di “Pelantikan Menteri, Muhadjir Menolak Halus Jabat Tangan Ibu Iriana Jokowi” (http://sangpencerah.com 28/07/2016). Kedua, “Masya-Allah, Mendikbud RI Beri Penghargaan Orang Tua Terhebat kepada Ayah dan Ibu Musa Al-Hafidz” (http:/jurnalmuslim.com30/07/2016). Mengapa kedua hal itu bisa mencuri perhatian publik?

Sikap Hati-hati
Pada 27/07/2016 sejumlah menteri baru dilantik dalam sebuah perombakan Kabinet. Prof. Dr. Muhadjir Effendy termasuk yang dilantik untuk jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Usai pelantikan dilanjutkan pemberian ucapan selamat. Di momen itulah, terjadi hal yang -setidaknya bagi sementara orang- patut diapresiasi. Saat itu, Presiden Jokowi yang didampingi istrinya dan tamu Pejabat Negara lainnya memberikan ucapan selamat kepada para Menteri yang dilantik. Tiba giliran Iriana(istri Jokowi) akan menyampaikan selamat kepada Mendikbud, seketika itu Muhadjir mencakupkan tangan ke dada sebagai isyarat halus untuk tak berjabat tangan secara langsung.

Tak pelak, “adegan kecil” ini bisa mengundang simpati. Bahkan, “adegan kecil” itu bukan tak mungkin adalah cara Muhadjir dalam memberi pesan kepada publik atas apa yang akan menjadi arah kebijakannya sebagai Mendikbud.

Siapa Muhadjir Effendy? Muhadjir lahir di Madiun pada 29/07/1956. Dia rektor Universitas Muhammadiyah Malang 2008-2016. Dia lulus S3 Sosiologi Politik Unair pada 2008 dan menjadi Guru Besar pada 2014. Sejak mahasiswa dan sampai kini dia aktif menulis artikel-opini. Tulisannya tersebar di sejumlah media daerah maupun nasional.

Sampai dilantik sebagai Mendikbud, Muhadjir adalah salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Dulu, sebagai pelajar dia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) dan kala mahasiswa aktif di HMI(Himpunan Mahasiswa Islam). Di keseharian beliau kerap menjadi Imam shalat.

Lalu, apa istimewanya sikap tak mau bersalaman dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya? Bukankah soal haram atau tidaknya jabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya termasuk khilafiyah dalam Islam?

Boleh jadi, setidaknya dengan cara itu Muhadjir ingin menunjukkan sikap hati-hati. Kita tahu, indikasi terpenting dari seseorang yang bertaqwa –seperti yang pernah digambarkan Abu Hurairah Ra- adalah selalu berhati-hati di setiap keadaan. Senantiasa berhati-hati agar tak terjatuh kepada situasi melanggar larangan Allah.

Terkait ini, mari berefleksi. Di beberapa tahun terakhir ini, di banyak sekolah –dari TK sampai SMA- berkembang tradisi yang baik. Di pagi hari, saat murid berdatangan di sekolah, sejumlah guru menyambut di sebuah “titik strategis”. Sang guru memperhatikan satu demi satu murid yang datang, menjalin komunikasi batin. Dengan senyum ramah, guru-guru itu menerima salam dari para murid. Tak cukup di situ, mereka juga bersalaman.

Baca Juga :

Sebagian besar murid bahkan melakukannya dengan mencium tangan si guru.

Terkait hal di atas, yang perlu kita kritisi adalah untuk tingkat SMP dan SMA. Rasanya, sebagian (besar) dari murid-murid itu telah baligh dan untuk itu kedua pihak –guru dan murid- sebaiknya menahan diri untuk tak saling berjabat tangan jika berlainan jenis. Juga, murid menahan diri untuk tak mencium tangan si guru jika berlainan jenis.

Di keseharian lainnya selama di sekolah mestinya juga sama, yaitu berhati-hati dalam hal yang sering dianggap sepele karena “hanya” sekadar jabat tangan atau cium tangan. Lihatlah misalnya saat acara “Halal bil-Halal”. Antar-guru, antar-guru dan murid, dan antar-murid yang berlainan jenis tampak bebas bersalaman.

Kini, lewat “isyarat” Sang Mendikbud, semoga kita bisa mengikuti jejaknya. Dengan cara itu, semoga salaman yang memiliki nilai positif tak terkurangi nilainya dengan sebuah aktivitas yang sebenarnya bisa kita hindari. Hal itu tergantung kepada kemauan dari masing-masing orang dan terutama dari yang berstatus sebagai pemimpin.

Ukuran Sukses

Lihatlah fragmen ini: Mendikbud Muhadjir memberikan Piagam Penghargaan kepada La Ode Abu Hanafi dan Yulianti, yang masing-masing adalah ayah dan ibu dari Musa. Siapa Musa?

Nama lengkap Musa adalah La Ode Musa. Di Musabaqah Hifzhil Qur’an International di Sharm El-Sheikh Mesirpada 10-14 April 2016 Musa yang berusia 7 tahun menjadi Juara Ketiga. Hal yang sangat istimewa, di ajang lomba hafizh anak tingkat dunia itu, Musa yang mewakili Indonesia adalah peserta termuda dan dengan postur terkecil.

Piagam yang diberikan kepada orang-tua Musa itu sungguh prestisius, yaitu sebagai orang-tua hebat. Penghargaan itu diberikan secara resmi oleh Mendikbud pada 30/07/2016 dalam rangka kegiatan Pendidikan Keluarga tahun 2016.
Sangat boleh jadi, di titik ini, Mendikbud Muhadjir hendak mengirim pesan bahwa ukuran sukses itu jangan hanya yang bersifat “bendawi” saja. Tapi, bahkan ini yang penting, ukuran sukses itu hendaknya lebih dilihat pada kemampuan seseorang dalam mencapai keberhasilan atau sukses menurut kriteria dari Sang Pencipta.

Apa kriterianya? Salah satu kriterianya ada pada QS Al-A’laa [87]: 14-15: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”.

Insya-Allah orang-tua Musa memenuhi ketiga kriteria orang yang beruntung (baca: orang yang sukses) yaitu mereka yang beriman, selalu ingat Allah (terbukti dengan memberikan pendidikan yang terbaik bagi Musa), dan menegakkan shalat.

Pesan ini harus ditangkap oleh semua pihak, terutama para orang-tua dan segenap guru bahwa ukuran sukses itu tak melulu berupa pencapaian nilai yang tinggi dari berbagai pelajaran yang diujikan. Tapi, hendaknya dibersamai dengan pencapaian sikap bahwa seseorang itu harus beriman, selalu berakhlaq baik (karena selalu ingat Alah), dan senantiasa menunaikan berbagai perintah agama.

Semoga Istiqomah

Alhasil, mari iringi Menteri Muhadjir Effendy dalam memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sepenuh empati tanpa sedikitpun mengurangi sikap kritis kita. Selamat bekerja Pak Menteri!

0 komentar:

Posting Komentar

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter